Pengantar oleh saya sendiri, puisi ditulis oleh rekan Sumar Sastrowardoyo
Pramoedya sudah tiada, sosok yang banyak mendapatkan penghargaan dari lembaga-lembaga budaya dan sastra Luar Negeri, tapi hidup bagaikan anjing di Tanah Airnnya sendiri. Menjalani hidup banyak dibalik tirai besi penjara Negeri. Pram yang selalu melahirkan karya-karya fenomenal. Goresan jemari yang seakan menjadi peluru bagi pemerintahan Orde Baru saat itu.
Berbagai macam tuduhan pernah disandangnya, mulai dari tuduhan PKI, makar, menyebarkan provokasi, sampai kepada sastra pemberontak. Pram bukanlah komunis meski Dia tidak menampik bahwa pernah duduk menjadi salah satu anggota Lekra pada saat itu, Pram bukanlah seorang makar dan pemberontak, namun Pram hanya mencoba memberikan sedikit dari sekian banyak bobroknya Nusantara ini melalui tulisan.
Pram yang hampir dicalonkan sebagai salah satu kandidat peraih nobel sastra, dan Pram yang sekarang sudah hampir menyatu dengan tanah adalah salah satu sosok yang tercampakkan di Nusantara ini. Namun pada saat pemakaman Pram, Dia bangga dengan pramist-pramist yang mengiringi jalan terakhirnya… Jalan terakhir yang diiringi dengan untaian do’a dan lagu Internationale. Selamat jalan Bung Pram.
Untuk Mas Pram Yang Selalu Kukenang.
Lagu Darah Rakyat
Darah rakyat masih berjalan
Menderita sakit dan miskin
Pada saat datangnya pembalasan
Kita yang menjadi hakim
Kita yang menjadi hakim
Lagu Internationale
Bangunlah kaum yang terhina
Bangunlah kaum yang lapar
Kehendak dunia bahagia
Bertambah lama bertambah besar
Pertandingan penghabisan
Kumpullah melawan
Sarekat Internasionale musti di dunia