Pindahan
May 6th, 2007
No Comments
Guys, weblog pribadi sudah dipindah tugaskan ke alamat http://www.betha.nl
May 6th, 2007
No Comments
Guys, weblog pribadi sudah dipindah tugaskan ke alamat http://www.betha.nl
June 17th, 2006
2 Comments
Rakyat Merdeka, Selasa, 13 Juni 2006, 14:30:09 WIB
Jakarta, Rakyat Merdeka. Gara-gara melemparkan isu Partai Komunis Indonesia (PKI) telah menyusupi 150 anggota DPR, nama Pangdam Jaya Agustadi SP, tercoreng.
“Dia bukan prajurit sejati,” kata bekas Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) kepada Situs Berita Rakyat Merdekam siang ini (Selasa 13/6). Menurutnya sebagai prajurit sejati, seharusnya Agustadi mengurusi anak buahnya agar menjadi prajurit profesional, bukan mengurusi politik.
Budiman menilai selama ini keterpurukan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kiprah para petinggi militer mengurusi politik. Semasa Orde Baru berkuasa, militer diajak oleh elit politik untuk memasuki wilayah politik, yang sebenarhya bukan urusannya.
“Urusan militer adalah menjaga keamanan dan pertahanan negara ini dari Sabang sampai Marauke. Bukan masuk ke wilayah politik seperti yang terjadi sekarang ini,” katanya.
Akibat militer bermain di wilayah politik, menurut dia menyebabkan kondisi Indonesia terseok-seok seperti sekarang ini. Sementara elit politik gemar menyeret militer untuk wilayah politik.
“Ya jadinya seperti itu,” kata Budiman yang saat ini aktif di Relawan Pejuang untuk Demokrasi (Repdem) yang merupakan underbow PDIP ini. Untuk itu dia mendesak DPR untuk segera memanggil Agustadi untuk menanyakan langsung kepadanya apa motivasi dan maksud dia mengeluarkan pernyataan seperti itu.
June 17th, 2006
No Comments
BENCANA GEMPA BUMI DAN GUNUNG MERAPI
Mereka tak menduga
mala petaka menimpa
meratap pedih
kehilangan segala yang mereka punya
jiwa
keluarga
kerja
sanak-keluarga
harta benda? pabila ada
seorang perempuan lari, tak sempat membawa yang ia miliki
kecuali dalam pelukan gendongan
seorang anak satu-satunya, bagai biji-mata ibu-bapak
Kini tlah terjadi
apa yang dipikiri
penyembuhan diri
penguatan hati
pikir dulu hari ini
Harapan
‘tuk Penguasa Negara
bantuan dari beberapa negara yang tiba
terima dengan tangan terbuka
bijak - tepat - cepat pelaksanaan mulia
tak pandang bulu
tak pandang suku
tuk kepentingan mereka yang sedang pilu
bagai diiris dengan sembilu
Pabila mereka pulang ke kampung halaman
anak-anak bisa bermain riang
dengan harapan
ada tempat berteduh
‘tuk hidup
kerja mereka butuh
Semoga
Semua keluarga yang tertimpa musibah
cepat sembuh
jasmani - rohani
tabahkan hati
naluri anak ibu Pertiwi.
Assen - Belanda, 10 Juni 2006
Catatan:
Karya puisi Ibu Inah, berjudul “Bencana Gempa Bumi dan Gunung Merapi” dibacakan oleh beliau dalam acara Solidaritas Kemanusiaan Untuk Korban Bencana Alam di Amsterdam, tanggal 10 Juni 2006.
June 9th, 2006
4 Comments
Beberapa hari yang lalu, teman saya dari Philipina datang. Kebetulan dia adalah seorang relawan yang diutus untuk me-recovery gempa Yogya. Saya ketemu dia disebuah coffee shop di Yogya.
Diskusi mengalir kesana-kemari dengan alur naik turun
Akhirnya sampai kepada diskusi seputar mahalnya biaya koneksi internet di Indonesia. Di Philipina sendiri harga bandwidth kelas ADSL untuk 780 Kbps upstream 1:2 adalah seharga Rp. 200.000 dan kalau dibandingkan di Indonesia untuk bandwidth kelas 512 Kbps upstream 1:2 adalah seharga Rp. 10.000.000 - Rp 15.000.000 tentulah nominal kedua bukanlah sebuah harga yang murah.
Lantas kepada harga bandwidth di Indonesia mahal? Seharusnya pemerintah menyadari bahwa jalur komunikasi paling cepat didapatkan adalah dari Internet, dan seharusnya pula biaya untuk sarana tersebut adalah murah dan memihak kepada rakyat. Kita bisa melihat di Pasal 33 UUD 1945 yang
menyebutkan:
[…]
Demikian pasal 33 ayat (1), (2) dan (3) Undang-undang Dasar 1945. Penjelasan pasal 33 menyebutkan bahwa “dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat-lah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang”. Selanjutnya dikatakan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Sehingga, sebenarnya secara tegas Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang-seorang. Dengan kata lain monopoli, oligopoli maupun praktek kartel dalam bidang
pengelolaan sumber dayya alam adalah bertentangan dengan prinsip pasal 33.
[…]
Namun yang terjadi adalah suimber daya frekwensi seluruhnya dikuasi oleh negara dan tidak digunakan untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. TELKOMNET yang katanya perusahaan memihak kepada rakyat dengan program baru “Internet datang ke Sekolah” tetap saja memberikan harga yang lumayan gila, sekisar Rp. 9000/jam atau malam minggu dengan harga Rp. 6000/jam.
Namun kita bisa sedikit berharap dengan niatan pemerintah untuk mendirikan Backbone sendiri (seperti yang diberitakan di media lokal Detikinet) dengan harapan harga koneksi internet di Indonesia bisa sedikit lebih murah dari harga yang sekarang. Tapi saya pribadi kok ragu dengan niatan pemerintah tersebut, karena belajar dari pengalaman, pemerintah Indonesia hanya nge-gas pol pada saat pertama saja. Dan ketika proses berjalannya penuh dengan trik dan intrik busuk.
Ah semoga saja tidak, diantara proses recovery Gempa Jogja sedikit bergumam … dan kenapa bandwidth masih mahal juga? … Ah sudahlah saya istirahat sebentar sambil menikmati Gold Blend Cappucino.
June 9th, 2006
4 Comments
Membaca Surat Kabar Harian lokal Yogya yang bernamakan Kedaulatan Rakyat, disana ada Kolom Analisis yang ditulis oleh seorang nara sumber yang bernamakan KRMT Roy Suryo Notodiprojo. Opini yang dibuat oleh beliau berkisaran tentang sebuah berita yang simpang siur dan serba tidak jelas pasca gempa Yogya.
Anehnya mas Roy sengaja memberikan serangan kepada milister, YM-er (sebutan untuk pengguna Yahoo! Messenger), dan para blogger (sebutan kepada seseorang yang menggunakan blog sebagai media propaganda) yang mereka sebagian besar adalah komunitas yang anti terhadap Roy. Lantas parameter apa yang digunakan Roy menyebut mereka sebagai biang keladi? (walupun secara eksplisit Roy tidak menyebut secara langsung mereka sebagai biang keladi). Tapi simaklah kutipan beliau dibawah ini